Total Tayangan Halaman

Selasa, 10 Juli 2012

Menyimpan data di awan

Akhir-akhir ini lagi ngetrend istilah Komputasi awan (Cloud Computing), tapi saya tidak akan membahas tentang itu, yang akan saya bahas merupakan bagian kecil dari komputasi awan yaitu menyimpan data atau file hasil kerja kita di "awan". Sepengetahuan saya, ada banyak yang menawarkan media penyimpanan di "awan" semisal: Google Drive, Sky Drive, Drop Box dan lain-lain, biasanya layanan yang ditawarkan ada yang berbayar dan ada juga yang gratis dengan pembatasan besarnya data yang bisa disimpan. Pada kesempatan ini saya akan membahas penyimpanan di Google Drive. kapasitas penyimpanan di Google Drive yang gratis setahu saya adalah 5 GB (lumayaan)
Dengan menyimpan data di Google Drive, kita bisa terhidar dari masalah yang mungkin timbul bila kita mengalami trouble atau kerusakan pada hardware kita. karena data tersebut bisa kita unduh, edit, dan kita sinkronisasikan dengan data yang ada di hardware kita di manapun kita berada dengan syarat ada alat untuk akses dan tentu saja jaringan untuk mengakses internet.
Adapun untuk langkah-langkahnya sebagai berikut:
1. kita harus punya akun di google (GMail)
2. Unduh dan instal aplikasi Google Drive di sini atau di sini juga bisa.
3. Setelah instal sampai selesai, selanjutnya kita log in dengan memasukkan alamat email dan password.
kita bisa mengkopi file yng akan kita simpan di "awan" ke dalam folder  Google Drive. folder tersebut aslinya ada di drive C, tetapi kita bisa memindahnya sesuai keinginan. selamat mencoba.

Selasa, 03 Juli 2012

Cara Membuat Indeks


Indeks diperlukan untuk memudahkan pembaca mencari nama atau istilah yang disebutkan dalam buku. Jadi, bila orang ingin memeriksa istilah tertentu dalam buku secara cepat, orang tersebut cukup membuka halaman-halaman tertentu seperti yang tertera pada indeks, tanpa harus membaca buku itu secara keseluruhan.
Microsoft Word dapat membantu kita membuat indeks dan mengurutkannya secara alfabet.

Cara Membuat Indeks

Untuk membuat indeks, terlebih dahulu kita harus menandai istilah-istilah (entri) yang akan dimasukkan ke indeks. Setelah ditandai semuanya baru dilanjutkan dengan membuat dan menampilkan indeks pada dokumen.

Langkah 1: Menandai Entri untuk Indeks
  1. Buka dokumen yang akan dibuat indeksnya.
  2. Pilih teks yang ada pada dokumen untuk dijadikan entri pada indeks.
    Bila ingin menggunakan istilah baru, klik pada bagian yang ingin disisipkan entri untuk indeks (misalnya di dekat teks atau frasa tertentu).
  3. Pada References tab, Index group, klik Mark Entry.
    Index Group
  4. Ketik atau edit entri di kotak Main entry.
    Mark Index Entry Dialog Box
  5. Untuk membuat entri pendamping (cross-reference), pada bagian Options, klik Cross-reference dan ketik teks pada kotak di sampingnya seperti contoh gambar berikut ini.
    cross-reference
  6. Beri format nomor halaman pada indeks dengan mencentang kotak Bold (cetak tebal) atau Italic (cetak miring) di bagian Page number format.
  7. Untuk menandai entri ini, klik tombol Mark atau klik tombol Mark All untuk menandai semua teks yang sama dalam dokumen.
  8. Selanjutnya Microsoft Word akan mengaktifkan fitur Show All Formatting Marks yang akan menampilkan XE field untuk entri yang telah dibuat.
    Contoh tampilan akan seperti gambar berikut ini. Teks Publishing pada gambar merupakan contoh entri.
    Tip: untuk menghilangkan tampilan ini, pada Home tab, Paragraph group, klik Show/Hide Show/Hide atau tekan tombol CTRL + SHIFT + *.
    XE Field
  9. Lanjutkan dengan membuat entri yang lain. Bila sudah selesai, klik Close untuk menutup kotak dialog Mark Index Entry.

Langkah 2: Membuat Indeks
  1. Klik pada bagian halaman dokumen untuk membuat indeks. Biasanya pada halaman terakhir dokumen.
  2. Ketik judul halaman dan tekan Enter untuk memberi jarak antara judul dan isi indeks.
  3. Pada References tab, Index group, klik Insert Index.
  4. Pada tab Index, kita dapat melakukan hal berikut:
    • Centang kotak Right align page numbers, untuk membuat rata kanan nomor halaman. Pilih Tab leader yang ingin digunakan (penyambung teks dan nomor halaman berupa garis putus-putus, titik, dan sebagainya).
    • Columns, umumnya indeks terdiri dari 2 kolom. Bila ingin menambah atau mengurangi jumlah kolom, ubah angka pada kotak di sampingnya.
      Index Tab
  5. Klik OK.
  6. Bila ada perubahan pada entri, klik pada indeks dan tekan tombol F9 untuk update.


Cara Edit atau Format Entri untuk Indeks

  1. Aktifkan fitur Show All Formatting Marks untuk menampilkan XE field dengan mengklik Show/Hide Show/Hide pada Home tab, Paragraph group. Atau tekan tombol CTRL + SHIFT + *.
  2. Cari XE field yang berisi entri yang ingin diubah. Contoh XE field: { XE " naskah" }.

    Tip: Cara lain mencari field, tekan CTRL + F, klik Special, dan kemudian klik Field. Klik tombol Find Next untuk menemukan XE field. Jika Anda tidak melihat tombol Special, klik More.
  3. Untuk merubah atau memformat entri, ubah teks yang ada dalam petik dua.
  4. Klik pada indeks dan tekan tombol F9 untuk update.


Cara Menghapus Entri untuk Indeks

  1. Aktifkan fitur Show All Formatting Marks untuk menampilkan XE field dengan mengklik Show/Hide Show/Hide pada Home tab, Paragraph group. Atau tekan tombol CTRL + SHIFT + *.
  2. Pilih XE field untuk entri yang akan dihapus, termasuk tanda kurung {}, dan tekan tombol DELETE.
  3. Klik pada indeks dan tekan tombol F9 untuk update.

Rabu, 25 April 2012

Buat seluruh tenaga pengajar, entah guru, dosen dan lainnya.. must read"!!

Buat seluruh tenaga pengajar, entah guru, dosen dan lainnya.. must read"!!
::Tulisan Prof. Rhenald Kasali (Guru Besar FE UI), copas saka tangga.

LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat. Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa.

Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana. Saya memintanya memperbaiki kembali, sampai dia menyerah.

Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberinilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri.

Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?”

“Dari Indonesia,” jawab saya.

Dia pun tersenyum.

BUDAYA MENGHUKUM

Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat.

“Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anak anaknya dididik di sini,” lanjutnya. “Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement! ” Dia pun melanjutkan argumentasinya.

“Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda-beda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya.

Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.

Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doktor.

Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah.

Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafik-grafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti.

Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan.

Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.

***

Etika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi.

Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan. Ada semacam balas dendam dan kecurigaan.

Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak.

Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. “Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan.

Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.

Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti.”

Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif.

Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya mengatakan “gurunya salah”. Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.

MELAHIRKAN KEHEBATAN

Bisakah kita mencetak orang-orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru, sundutan rokok, dan seterusnya.

Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas…; Kalau,…; Nanti,…; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.

Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh.

Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh.

Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh.

Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti.